
Aku adalah perawat di rumah sebuah Pusat Rehabilitasi Penyakit. Selama 9 jam dalam sehari yang dibagi dalam beberapa shift, aku berurusan dengan orang-orang yang kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya, yaitu kesehatan jiwa dan harga diri. Mereka adalah sekumpulan orang-orang terbuang yang mencipta dunianya untuk diyakini seorang diri. Tak ada yang tahu apa penyebabnya, begitu kompleks dan abstrak. Yang jelas semua terkukung pada satu lingkup samar masa depan. Ini bukanlah pekerjaan impianku. Tapi merupakan kenyataan hidupku, dan aku harus merasa bahagia dengan apa yang aku kerjakan selama ini. Seperti kata orang bijak : “Cintailah pekerjaanmu, maka seumur hidup kamu tak pernah merasakan bekerja”.
Hampir dua tahun sudah aku bergelut di bangsal ini, dan lambat laun aku makin dapat beradaptasi dengan keinginan, pendapat dan perlakuan mereka yang bersisian jauh dengan pemikiran orang berjiwa sehat pada umumnya. Ada kegalauan, kepanikan dan keresahan yang hanya bisa dimengerti secara personal. Kenapa ? apa yang dirasakan ? tak pernah ada jawaban yang pasti. Ketakutan, tatapan nanar sampai keinginan untuk mengakhiri hidup ini. Namun aku mencoba menyelami sisi gelap di jiwa mereka. Aku bahkan berusaha sedapat mungkin mengetuk dan memiliki kunci untuk dapat memasuki gerbang dunia mereka yang pekat, misterius dan begitu abstrak untuk di mengerti dalam bahasa awam.
Lalu hadir Hilman – pemuda berjarak bulan dengan usiaku. Ia memasuki ruang ini dengan tatapan hampa tanpa makna. Seperti jiwa lainnya, Hilman pun membawa sepenggal kisah gelap penuh kabut misteri yang hanya bisa dimengerti olehnya. Namun aku menyukai matanya. Aku menyukai senyumnya dan entahlah ia memiliki aura berbeda dari lainnya, hingga mampu memompa energiku untuk larut dalam dunianya, dalam kegelisahannya dan segala mimpi buruknya. Kacamata batinku menyiratkan Hilman bukan orang gila seperti dugaan keluarganya. 1a hanya memiliki luka kecil di jiwanya. Entah apa penyebabnya, yang pasti aku ingin menyembuhkannya dan memiliki angan untuk merenda asa indah bersamanya.
“Seringan apapun penyakitnya, ia tetap berada di sini, tempatnya orang-orang berpenyakit mental. Ingat, They’ve serious mental illness” Yuri karibku menegaskan saat ku utarakan perasaanku terhadap Hilman.
“Tapi aku menemukan sesuatu yang lain dimatanya”
Yuri mendelik heran. “Tentu saja lain. Mata orang sehat dengan mata orang sakit jelas memiliki perbedaan yang menyolok dong”
“Tidak Yur” bantahku pelan “Hilman memiliki pancaran aura yang tak semua pria memilikinya, sayangnya saja ada luka di jiwanya hingga ada keterbatasan untuk merefleksikan segala kelebihan yang ia miliki”
Yuri tertawa lepas. “Putus asa banget sich ? udah bosan sama orang normal atau kelamaan bergaul sama orang sakit ?”
“Kenapa harus ditertawakan ? Cinta itu bukan hanya dominasi orang sehat saja khan? Lagipula Hilman tidak seperti orang sakit jiwa pada umumnya. Ia hanya……”
“Hanya apa ? Yuri memotong cepat. “Hilang ingatan kan ? Ah sudahlah Veg, beban kerjamu memang berat. Tapi jangan dibawa stress gitu dong. Apalagi sampai membuat keputusan aneh seperti ini”
Aku menatap Yuri heran.”Anehkah jika Tuhan memberi benih kasih ini dihatiku untuk seseorang seperti Hilman ? Jiwanya memang terganggu tapi bukan berarti ia tak memiliki hak untuk dicintai”
Yuri terdiam dengan desahan panjang. Memang tak pernah ada yang mengerti dengan keputusanku ini. Tapi aku tak bisa lagi bertoleransi dengan ketidak setujuan mereka. Bahkan aku dengan tegas menentang protes keras dari keluargaku. Makin hari aku semakin membutuhkan sosok itu. Selalu merindukan kebersamaan dengannya, meski terkadang yang aku dapatkan hanyalah kekosongan, sikap acuh dan percakapan tanpa makna. Lalu hukum alam pun berlaku, pepatah kuno membenarkan apa yang tengah kurasakan saat ini. “Cinta memang Buta, Cinta dapat mengalahkan segalanya” Dan, begitulah yang kualami saat ini. Bagiku Hilman tetaplah seseorang yang memiliki kharisma berlebih dimataku dan yang lebih penting dari itu, ia adalah seorang anak manusia dengan luka kecil dijiwanya namun tetap berhak untuk mencinta dan dicinta.
Aku memasuki ruangan Hilman dengan perasaan bergetar. Untungnya ia tengah tertidur. Wajahnya terlihat begitu tampan dalam balutan piyama untuk pasien kelas VIP. Ia didiagnosa menderita “Paranoid Schizophrenia” oleh Dr. Anita – Dokter sekaligus Psikiater yang merawat penyakit kejiwaannya. Obat-obatan seperti Thorazine, Stelazine, Serentil dan Loxatil harus ditelannya setiap hari dengan dosis yang telah ditentukan. Kadang tanpa sepengetahuan Dr. Anita dan perawat lainnya, aku menurunkan dosis yang seharusnya dikonsumsi Hilman atau bahkan tak kuberikan sama sekali tapi kerap kuganti dengan obat alternatif yang tak mengandung zat kimia sama sekali. Karena aku tahu betul efek samping dari obat-obatan itu yang bisa meracuni tubuh Hilman. Aku mencintainya dan menurutku Hilman tak membutuhkan obat-obatan ini, ia hanya perlu kasih sayang tulus dari seseorang dan aku pastikan, hal itu akan ia dapatkan dariku. Aku yakin cinta tulus yang akan kuberikan untuknya, suatu saat nanti akan memberi efek psikologis yang dapat mengalahkan keampuhan segala obat-obatan anti depresi yang pernah ada.
Dengan lembut, kurapikan anak-anak rambut yang menutupi keningnya. Wajahnya begitu lugu dan memancarkan kepasrahan seorang bayi. Aku terus memandangi raut tampannya, sampai akhirnya ia menggeliat dan terkejut melihat kehadiranku.
“Waktunya sarapan pagi” Aku tersenyum ramah. Ia bangkit dan terduduk dipojok pembaringannya. “Ini, makanlah. Aku bantu suapin yach ?” Bujukku halus. Ia menatapku nanar seraya mendekap erat buku agenda bersampul hitam.
“Kamu pasti ingin merampas buku ‘Perjanjian Lama’ ini” Ujarnya galak. Aku mendesah maklum. Memiliki pandangan extreme mengenai hal-hal yang gaib dan religius serta halusinasi yang tinggi namun berbenturan dan bermakna terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya, adalah merupakan ciri dari penderita Schizophrenia yang tengah diderita Hilman. Sejak pertama aku menanganinya, Hilman memang menganggap dirinya seorang nabi, ia sama sekali tak bisa membedakan kenyataan dikehidupan sehari-hari. Bahkan seekor kucing yang lewat dihadapannya, dalam imajinasinya adalah seekor kuda bersayap yang kerap membawanya terbang ke langit ke tujuh untuk bertemu Tuhan.
“Hilman, aku bukan orang Yahudi. Aku juga ingin menyelamatkan Perjanjian Lama itu” Ujarku berusaha larut dalam halusinasinya.
“O, aku kenal kamu ! Sentaknya seraya memegang bahuku “Miriam kakak kandung Moses, yach, matamu mirip sekali dengannya” Lalu Hilmanpun terbahak keras. Aku berusaha menenangkannya dan meraih tubuh tegapnya dengan penuh kasih. Kembali kubelai rambutnya seraya menatap matanya dalam.
“Hilman, namaku Vega, dan sekarang ini kita hidup di zaman Bapak SBY dan bukan Fir’aun. Sekarang, makanlah ini. Tidak enak kalau sudah dingin”.
Mata nanarnya berubah sendu. Perlahan ia membuka mulutnya. Lalu dengan penuh cinta aku menyuapinya hingga semua makanan masuk kedalam perutnya. Setelah agak tenang, perlahan kubujuk ia untuk menelan pil demi pil anti depressi seperti biasa. Untungnya ia kembali menurut. Pasien lain dengan penyakit sejenis, selalu membutuhkan tenaga berlebih untuk membujuk mereka makan dan minum obat, beda halnya dengan Hilman. Selama ini, aku hanya mencairkan dan menenangkan kegalauan hatinya dengan kasih sayangku. Tapi aku bukan Florence Nightingale yang bisa membagi cintaku untuk semua orang dibangsal ini. Aku hanya memiliki satu hati dan itu telah kuberikan sepenuhnya untuk seseorang bernama Hilman.
Aku membawa Hilman berjalan-jalan disekitar taman yang kian rimbun ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna. Aku menggenggam tangannya kirinya sementara tangan kanannya tetap memegang agenda hitam yang dipercayainya sebagai Buku Perjanjian Lama. Aku sendiri tak mengerti, mengapa ada orang yang bisa terkena jenis penyakit ini. Penyakit akhir zamankah ? Tak ada virus atau bakteri yang menginfeksi otak atau tubuh mereka. Dr. Anita hanya menjelaskan bahwa otak penderita Schizophrenia tidak bisa bekerja mengantarkan dan menerima pesan selayaknya orang normal. Ada semacam gangguan psikologis sehingga menimbulkan persepsi dan pemikiran yang aneh dan terkadang sangat extrim. Disamping ketidakmampuan mengontrol rasa sedih atau gembira, sulit membedakan antara khayalan dan realita, serta mengasingkan diri. Bahkan tak jarang penderita sering kali ingin melakukan bunuh diri. Tapi syukurlah itu tak terjadi pada Hilman. Ia memang masih dalam perawatan intensif namun untungnya tidak masuk dalam category pasien berbahaya.
“Duduklah disini, dan rasakan sejuknya udara pagi, Hm…..” Aku menarik nafas dalam. Hilman tak menurutiku, tatapannya kembali nanar dan tiba-tiba ia berlari menghindariku.
“Hei ! Aku mencegahnya cepat “ Lepaskan aku ! Lihat, sekumpulan setan dari neraka paling dasar tengah mengintai kita dibalik semak itu” Katanya ketakutan. Aku memeluk tubuhnya. “Hilman, lihat mataku, pegang tanganku kita tengah berada ditaman yang indah dan bukan di neraka” Ujarku seraya menuntunnya untuk duduk. Keringat dingin mengucur deras di keningnya. Aku menghapusnya lembut lalu membelai punggungnya mesra. Ia terlihat mulai tenang, meski matanya masih menatap nanar dan liar.
“Hilman sayang, coba kamu ceritakan apa yang membuatmu takut ? Aku menggenggam jemarinya erat. Beberapa perawat yang lalu lalang tersenyum penuh arti melihat kemesraanku bersama Hilman, dan aku tak peduli. Jiwa di sisiku ini adalah permata yang sinarnya meredup oleh gumpalan lumpur, bulan yang bersinar sepenggal, dan tugasku lah untuk memunculkan kembali gemeralap sinarnya. Tiba-tiba Hilman menangis di bahuku.
“Aku ingin kembali ke rumah Tuhan, tempat ku disana dan bukan di neraka ini”
Hilman semakin tersedu sambil mendekap erat agenda hitamnya. Aku memeluknya dan semakin tak peduli dengan pandangan orang-orang disekitarku.
“Kita semua akan menuju rumah Tuhan, bila saatnya tiba. Tapi saat ini, tempatmu disini, sayang, dekatku. Sekarang ini, aku ingin kamu menatap kenyataan yang ada. Lihat, sentuh dan rasakanlah wangi bunga ini” uraiku seraya memberinya sekuntum bunga mawar. Mata nanarnya berubah sendu. Ia menatap mawar dalam genggamannya penuh arti. Apa yang ada di pikirannya ? Ingin rasanya aku memasuki alam imajinasinya lalu membawanya keluar dari kegelapan dan keabstrakan cara berpikirnya, atau membalut luka-luka kecil dijiwanya dengan cinta dan kasih sayangku. Tuhan, bertahun-tahun aku mempertanyakan kemana cintaku akan berlabuh. Dari sekian pria yang pernah singgah dihidupku, ternyata seorang Hilman lah yang bisa mencairkan kebekuan hati ini.
Dr. Anita menatapku penuh arti. Aku baru saja menyelesaikan shift malamku dan berganti dengan Dini yang kini bertugas menjaga Hilman. Wanita setengah baya itu memanggilku memasuki ruang kerjanya.
“Vega, dari semua perawat yang ada di Pusat Rehabilitasi ini. Hanya kamulah yang rela bekerja di dua shift dan penuh perhatian terhadap pasien, tapi mengapa hanya pada Hilman ? Aku tersenyum datar. Rasa kantukku mendadak lenyap.
“Apa ada keluhan dari pasien lain selain Hilman, Dok ?
“Hm, tidak ada cuma akhir-akhir ini saya dengar gossip antara kamu dan Hilman ?
“Gossip ? saya kira bukan lagi gossip Dok. Apa yang mereka ceritakan kepada Dokter mengenai hubungan saya dengan Hilman ?
“Mereka mengganggap kamu berpacaran dengannya, karena perlakuan istimewa kamu terhadap Hilman yang katanya terlalu berlebihan”
“Dok, saya punya hak untuk mencintai orang dalam bentuk yang bagaimanapun. Kalau kenyataannya itu terjadi pada Hilman, saya kira itu sesuatu yang wajar khan ?”
Dr. Anita menjawab dengan desahan panjang. Sebagai psikiater ia tentu bisa memahami gejolak seperti apa yang ada di jiwa ku saat ini. Terserah, ia mau menamai keputusanku ini dengan phobia tertentu atau kelainan psikis karena mencintai orang dengan mental bermasalah. Yang jelas, tak ada yang bisa merubah niatku untuk memberikan cinta bahkan seluruh hidupku pada Hilman.
“Aku hargai keputusanmu Vega, tapi tetaplah bersikap professional dalam bekerja Ok ? Aku menangguk pasti dan segera berlalu dari hadapannya. Sebelum pulang, aku kembali menjenguk Hilman yang tengah tertidur pulas. Kukecup keningnya dan meletakkan sekuntum mawar segar di sisi pembaringannya.
Aku tergolek resah di pembaringanku. Sejak kehadiran Hilman, seluruh angan dan mimpiku hanya terhias gambaran wajah dan senyumnya. Secara sadar dan perlahan aku pun telah menargetkan serentetan rencana buat sebuah masa depan yang menurut banyak orang adalah aneh dan gila. Yach, saat ini aku punya rencana untuk mendatangi rumah Hilman. Aku ingin menemui orang tua dan keluarga besarnya. Aku ingin melamar Hilman !.
Wanita itu memandangku tak percaya. Ada aliran bening mengalir dari mata tuanya. Sekali lagi aku memeluknya erat. “Apa yang kamu harapkan dari orang seperti Hilman, Nak ?” Aku tersenyum lembut. “Sama seperti yang diharapkan gadis normal pada umumnya. Cinta, kesetiaan, keturunan serta kemakmuran hidup hingga masa tua menjemput”
“Tapi, apa yang bisa diberi Hilman untukmu ? Ia…..” Kalimat itu terputus oleh isaknya.
“Bu, aku hanya meminta restu Ibu dan seluruh keluarga disini. Nikahkan kami dan segala harapan-harapan itu akan datang menyapa masa depan kami. Aku yakin sekali. Bu”
Dan restu pun kudapat walau dengan pandangan aneh dan ketidak yakinan pada apa yang baru saja kuutarakan. Namun kontroversi belum lagi usai. Aku mendapat tantangan keras tak hanya dari keluargaku namun seluruh lingkungan dimana mereka mengenalku. Ada yang mengatakan aku sudah gila, putus asa dan menderita phobia tertentu karena terlalu lama mengurus orang-orang dengan mental bermasalah. Peduli setan! Anjing menggonggong Khafilah terus berlalu. Dan akupun berlalu dan menuju pada tempat yang kuyakini kebenarannya.
Pernikahanku digelar dengan sangat sederhana. Tak ada satu orang keluargaku pun yang hadir. Aku maklum. Namun dari pihak Hilman, semua berdatangan, umumnya mereka penasaran ingin melihat Bidadari atau cewek gila macam apa yang mau menikah dengan penderita Schizophrenia. Selentingan terdengar bisik-bisik sekumpulan orang : “Dibayar 1 Milyar pun aku nggak mau punya suami orang gila. Aneh yach ? padahal dia cantik, tapi kok mau sich sama si Hilman ?. Aku tersenyum maklum mendengar percakapan itu. Karena hanya aku lah yang tahu siapa dan bagaimana Hilman hingga aku tak perlu dibayar untuk menjalani hidup bersamanya. Jiwanya memang tengah terluka, sinarnya tengah meredup. Tapi itu bukan berarti ia tak memiliki jalan untuk menuju pencerahan yang selalu di janjikan Tuhan.
Usai pesta pernikahan, tak ada bulan madu. Kasih sayang dan cinta tulusku buat Hilman sudah melebihi manisnya madu yang pernah ia rasakan. Hilman tetap tinggal di Pusat Rehabilitasi dan aku tetap bekerja seperti biasa. Namun atas permintaanku sebagai istri sahnya kini, Dr. Anita pun memperkenankan aku untuk turut serta membawa Hilman pulang jika shiftku berganti dengan perawat lain. Hingga otomatis selama 24 jam penuh, Hilman selalu berada dalam pengawasanku.
Waktu pun berlalu, meski banyak kemajuan yang dialami Hilman. Aku masih merasa terasing diantara orang-orang yang tak sependapat denganku. Terlalu sulitkah bagi mereka untuk sekedar memahami kebesaran cinta ? Atau mereka adalah orang-orang picik yang tak pernah tahu mukjizat dan kebesaran yang bisa di refleksikan dari kata bernama ‘cinta’ ? Saat ini aku tak hanya berjuang untuk membebaskan suamiku dari dunia muramnya namun juga berjuang untuk membuktikan bahwa aku bisa mendapatkan kehidupan rumah tangga yang semestinya bersama Hilman. Dan aku yakin, tak ada perjuangan yang sia-sia.
Setelah lewat tiga tahun. Tanpa aku sadari, ternyata aku kini telah hidup bersama seseorang dengan jiwa yang telah sembuh total. Saat Hilman terlihat sibuk mencari referensi-referensi kerjanya dan ingin menekuni pekerjaannya kembali sebagai arsitektur, aku merasa tengah menggenggam sebuah mukjizat yang pernah dijanjikan Tuhan lewat segenap doaku. Ternyata ia tak hanya tampan tapi juga genius. Hanya perlu waktu enam bulan buatnya untuk kembali mendapatkan apa yang pernah hilang di kehidupannya. Hilman memang pernah mengalamai masa ‘gerhana total’ dalam hidupnya. Dimana gelap melingkupi segenap pemikiran normalnya. Namun semua punya masa. Selama apapun itu pasti akan ada terang setelah gelap. Aku bahkan tak mau menyebut masa itu adalah kegelapan. Hilman ibarat bulan sepenggal kilau. Dan, aku telah berhasil membawa purnama di kehidupannya, di kehidupan kami. Kini, kami tengah menikmati keindahan purnama itu. Berhias Venus, jajaran bintang Orion lewat kerlip Alnitak, Alnilam dan Mintaka yang memberi sinar dalam karakter berbeda. Yach, seperti itulah kuibaratkan kehidupan kami kini, penuh dihiasi tawa Helma dan Virgy kedua anak kami yang terlahir sehat tanpa gangguan mental apapun. Semoga.
(Diterbitkan oleh Majalah Femina, Edisi 25)
|
Ria Jumriati
Proud Member dari WanitaOnline.Com, IndoWomenClub.com Terlahir di Jakarta pada tanggal 18 Desember 1972 dengan nama lengkap Ria Jumriati. Ibu dari Fahreza Helaputra Pratomo (11thn) dan Rivaldo Putra Aditya (7thn). Kesehariannya Ria bekerja sebagai Marcom’s Secretary di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Hobby menulis memang sudah ada sejak ia duduk dibangku SMP dengan menerbitkan kumpulan puisi dan cerpen yang hanya beredar dikalangan teman sekolahnya. Saat masih dibangku SMU, Ria memang sudah menjadi langganan sebagai penulis puisi dihari spesial tertentu. Ternyata bakatnya itu kian terasah hingga kini dengan diterbitkannya beberapa karya fiksinya. Buku pertamanya berjudul “Sperma Buat Ratri” terbit awal tahun 2007, dan dalam waktu dekat ini menyusul novel berikut nya dengan judul “5 Kelopak Mawar Berbisa” dan “Bunga Bunga Bangkai”. Penghargaan dibidang penulisan pun pernah diraihnya antara lain Juara I Lomba Catatan Harian Ibu Bersama Tabloid Ibu dan Anak April 2004 serta Cerpen dengan Judul “”Mata Sang Bidadari” masuk dalam 6 Karya Terbaik Lomba Penulisan Cerpen bertema Matamu Ceritamu’ Bersama Tabloid Wanita Indonesia Tahun 2005. Ria Jumriati adalah penulis yang sangat menjunjung tinggi persamaan gender. Maka tidak heran, dalam setiap karya fiksinya ia kerap mengusung tema mengenai hak dan perjuangan kaum perempuan. Untuk rekan tercinta WOL, yang ingin sekedar melihat tulisan Ria, bisa berkunjung ke blog nya di www.riajumriati.multiply.com |